🏦 Sistem Informasi Manajemen
πŸŽ“ Pertemuan
Pertemuan 9: Business Intelligence & Dashboard KPI Manajerial

MODUL PEMBELAJARAN

Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Pertemuan ke-9: Business Intelligence dan Dashboard KPI Manajerial Bank Syariah


Program Studi: Perbankan Syariah β€” Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut: UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Semester: IV (Empat) | SKS: 2 SKS
Bobot Pertemuan: 3%
Alokasi Waktu: 100 Menit (40 menit teori + 50 menit lab + 10 menit refleksi)


🎯 CAPAIAN PEMBELAJARAN

Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang Dibebankan

KodeDomainDeskripsi
CPL-2PengetahuanMenguasai konsep dan prinsip dasar sistem informasi manajemen serta penerapannya dalam pengambilan keputusan di lembaga keuangan syariah
CPL-3Keterampilan UmumMampu menganalisis informasi secara kritis dan menggunakannya untuk memecahkan permasalahan manajerial di perbankan syariah
CPL-4Keterampilan KhususMampu mengoperasikan perangkat teknologi informasi dasar, mengolah data sederhana, serta mengevaluasi kinerja dan tata kelola sistem informasi di lembaga keuangan syariah sesuai regulasi OJK dan Bank Indonesia

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

CPMK-2: Mahasiswa mampu menganalisis kebutuhan informasi manajerial dan alur data dalam operasional lembaga keuangan syariah (C4 β€” Menganalisis)

CPMK-4: Mahasiswa mampu mengevaluasi kinerja sistem informasi manajerial β€” mencakup business intelligence, manajemen data nasabah, manajemen risiko berbasis informasi, dan perencanaan strategis TI β€” dalam konteks perbankan syariah (C5 β€” Mengevaluasi)

Sub-CPMK Pertemuan Ini

Mahasiswa mampu menjelaskan konsep Business Intelligence (BI) dan membedakannya dari pelaporan rutin; mengidentifikasi dan menginterpretasikan KPI (Key Performance Indicators) utama perbankan syariah; menganalisis bagaimana informasi yang sama dibaca secara berbeda oleh level manajemen yang berbeda; serta membangun dashboard KPI sederhana di Excel yang dapat digunakan sebagai alat bantu keputusan manajerial kepala cabang bank syariah β€” dengan mengintegrasikan nilai syafafiyyah (transparansi) dan mas'uliyyah (pertanggungjawaban) sebagai landasan etis pelaporan informasi dalam Islam.

Indikator Ketercapaian

  • ☐ Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian Business Intelligence (BI) dan membedakannya dari laporan rutin biasa
  • ☐ Mahasiswa dapat menyebutkan minimal 5 KPI utama perbankan syariah beserta cara menghitung dan menginterpretasikannya
  • ☐ Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan kebutuhan informasi antara staf operasional, kepala cabang, dan direksi dengan contoh konkret
  • ☐ Mahasiswa dapat mengidentifikasi apa itu EIS (Executive Information System) sebagai wujud BI di level strategis
  • ☐ Mahasiswa dapat membangun dashboard KPI cabang sederhana di Excel menggunakan grafik, conditional formatting, dan ringkasan narasi
  • ☐ Mahasiswa dapat menginterpretasikan dashboard yang dibuatnya: KPI mana yang sehat, mana yang perlu perhatian, dan apa rekomendasinya
  • ☐ Mahasiswa dapat mengaitkan prinsip syafafiyyah, mas'uliyyah, dan shidq dengan kewajiban manajer bank syariah dalam menyajikan informasi yang jujur dan akurat

πŸ”— KAITAN DENGAN PERTEMUAN SEBELUMNYA DAN PEMBUKAAN BLOK 3

Selamat datang di Blok 3 β€” Informasi untuk Keputusan Manajerial.

Kita baru saja melewati UTS dan menyelesaikan Blok 2. Mari kita ingat perjalanan kita: di Pertemuan 4, kita belajar membuat tabel data nasabah yang rapi dan terstruktur. Di Pertemuan 5, kita mengolah data itu dengan formula COUNTIF, SUMIF, dan fungsi agregasi lainnya untuk menghasilkan angka-angka ringkasan. Di Pertemuan 6, kita mengubah angka-angka itu menjadi grafik dan dashboard visual yang mudah dibaca. Di Pertemuan 7, kita menggunakan data tersebut untuk mensimulasikan keputusan β€” yaitu skoring kelayakan pembiayaan nasabah.

Semua itu adalah keterampilan teknis. Dan keterampilan teknis itu sangat penting. Tapi sekarang, di Blok 3, kita naik satu tingkat: bagaimana semua keterampilan itu digunakan dalam konteks manajerial yang nyata?

Pertanyaan yang menjadi jiwa Blok 3 adalah: "Sebagai seorang manajer bank syariah β€” bukan programer, bukan akuntan, bukan IT β€” informasi apa yang Anda butuhkan, bagaimana Anda membacanya, dan bagaimana Anda menggunakannya untuk membuat keputusan yang lebih baik?"

Pertemuan 9 menjawab pertanyaan itu dari sudut pandang yang paling mendasar: bagaimana mengubah data mentah menjadi intelligence β€” kecerdasan informasi β€” yang benar-benar membantu manajer membuat keputusan. Inilah yang disebut Business Intelligence.

Kaitan teknis langsung:

  • Dashboard Excel di Pertemuan 6 adalah latihan teknis β†’ di Pertemuan 9, teknik yang sama diletakkan dalam konteks KPI dan keputusan manajerial yang nyata
  • Piramida manajemen (TPS β†’ MIS β†’ DSS β†’ EIS) yang diperkenalkan di Pertemuan 2 menjadi sangat relevan hari ini β€” EIS adalah wujud paling tinggi dari BI
  • Kebutuhan informasi per level manajemen yang disinggung di Pertemuan 7 sekarang dibahas secara lebih mendalam dan sistematis

πŸ—ΊοΈ PETA KONSEP MATERI

PERTEMUAN 9 β€” BUSINESS INTELLIGENCE & DASHBOARD KPI BANK SYARIAH
β”‚
β”œβ”€β”€ A. DARI DATA KE INTELLIGENCE: APA ITU BUSINESS INTELLIGENCE?
β”‚   β”œβ”€β”€ Piramida data: Data β†’ Informasi β†’ Knowledge β†’ Intelligence
β”‚   β”œβ”€β”€ Perbedaan BI vs laporan rutin biasa
β”‚   β”œβ”€β”€ Komponen ekosistem BI: data warehouse, ETL, OLAP, dashboard
β”‚   └── BI bukan hanya teknologi β€” BI adalah cara berpikir manajerial
β”‚
β”œβ”€β”€ B. KEBUTUHAN INFORMASI BERBEDA DI SETIAP LEVEL MANAJEMEN
β”‚   β”œβ”€β”€ Staf operasional: data real-time, rinci, transaksional
β”‚   β”œβ”€β”€ Kepala cabang / manajer taktis: ringkasan harian/mingguan, tren
β”‚   β”œβ”€β”€ Direksi / manajemen strategis: agregat, perbandingan, proyeksi
β”‚   └── EIS (Executive Information System): wujud BI di level strategis
β”‚
β”œβ”€β”€ C. KPI UTAMA PERBANKAN SYARIAH: APA YANG HARUS DIUKUR?
β”‚   β”œβ”€β”€ NPF β€” Non-Performing Financing (risiko kredit)
β”‚   β”œβ”€β”€ FDR β€” Financing to Deposit Ratio (likuiditas)
β”‚   β”œβ”€β”€ BOPO β€” Biaya Operasional / Pendapatan Operasional (efisiensi)
β”‚   β”œβ”€β”€ CAR β€” Capital Adequacy Ratio (ketahanan modal)
β”‚   β”œβ”€β”€ ROA β€” Return on Assets (profitabilitas)
β”‚   β”œβ”€β”€ Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga)
β”‚   └── Cara membaca: threshold normal, sinyal bahaya, tindakan koreksi
β”‚
β”œβ”€β”€ D. DASHBOARD MANAJERIAL: PRINSIP DESAIN YANG BENAR
β”‚   β”œβ”€β”€ Apa itu dashboard dan mengapa bukan sekadar kumpulan grafik?
β”‚   β”œβ”€β”€ 4 prinsip dashboard yang efektif: relevan, ringkas, visual, dapat ditindaklanjuti
β”‚   β”œβ”€β”€ Perbedaan dashboard operasional vs. dashboard strategis
β”‚   └── Conditional formatting sebagai "lampu lalu lintas" data
β”‚
└── E. BI DALAM PERSPEKTIF ISLAM
    β”œβ”€β”€ Syafafiyyah (transparansi informasi): hak manajer atas informasi yang jujur
    β”œβ”€β”€ Mas'uliyyah (pertanggungjawaban): laporan sebagai bentuk amanah
    β”œβ”€β”€ Shidq (kejujuran): bahaya manipulasi data dan window dressing
    └── Q.S. Al-Baqarah: 282 β€” landasan Islam tentang pencatatan dan pelaporan yang benar

πŸ“š MATERI POKOK

A. Dari Data ke Intelligence: Apa Itu Business Intelligence?

A.1 Piramida Transformasi Data

Kita sudah mengenal konsep dasar di Pertemuan 1: data adalah fakta mentah, informasi adalah data yang sudah diolah dan bermakna. Tapi untuk kebutuhan manajerial, hierarki itu perlu diperluas menjadi empat tingkatan:

        β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”
        β”‚  INTELLIGENCEβ”‚  ← Keputusan yang tepat, didukung pola dan wawasan
        β”œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€
        β”‚  KNOWLEDGE   β”‚  ← Pemahaman konteks: "Mengapa ini terjadi?"
        β”œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€
        β”‚  INFORMATION β”‚  ← Data yang diolah: "NPF kita 4,2% bulan ini"
        β”œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€
        β”‚    DATA      β”‚  ← Fakta mentah: catatan transaksi, pembayaran
        β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜

Contoh konkret di bank syariah:

TingkatanWujud di Bank Syariah
Data15.000 baris transaksi harian di CBS
Informasi"NPF cabang Pekalongan bulan Februari = 4,2%"
Knowledge"NPF naik karena 60% pembiayaan bermasalah berasal dari sektor UMKM kuliner yang terdampak musim hujan"
Intelligence"Perlu pengetatan kriteria pembiayaan sektor kuliner musiman dan program restrukturisasi proaktif sebelum Maret"

Laporan rutin yang umum diproduksi bank hanya menyentuh level Informasi. Business Intelligence yang sesungguhnya mendorong manajer naik ke level Knowledge dan Intelligence β€” di sinilah nilai sesungguhnya tercipta.

A.2 Definisi Business Intelligence (BI)

Menurut Turban et al. (2011), Business Intelligence adalah:

"Suatu istilah yang mencakup arsitektur, alat bantu, database, aplikasi, dan metodologi yang bertujuan mengubah data mentah menjadi informasi yang bermakna dan berguna untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih baik."

Dalam bahasa yang lebih sederhana untuk konteks perbankan syariah: BI adalah kemampuan sebuah bank untuk "membaca" kondisinya sendiri secara akurat, cepat, dan mendalam β€” sehingga manajer tahu persis apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan apa yang harus dilakukan.

BI bukan sekadar tentang teknologi canggih. BI dimulai dari pertanyaan yang tepat:

  • "Apakah kinerja pembiayaan kita membaik atau memburuk?"
  • "Produk mana yang paling banyak diminati nasabah baru?"
  • "Cabang mana yang paling efisien dalam menggunakan biaya operasional?"
  • "Apakah pertumbuhan DPK kita cukup cepat untuk menopang target pembiayaan?"

A.3 Perbedaan BI dengan Laporan Rutin

Ini adalah perbedaan yang sering disalahpahami, bahkan oleh para praktisi sekalipun:

AspekLaporan Rutin BiasaBusiness Intelligence
Orientasi waktuMundur β€” melaporkan apa yang sudah terjadiKe depan β€” menganalisis tren untuk mengantisipasi
FrekuensiBulanan / triwulanan (terjadwal)Real-time / harian / sesuai kebutuhan
FormatTabel angka statis, narasi panjangVisual interaktif, grafik, indikator warna
Siapa yang membuatStaf keuangan/akuntansiSistem secara otomatis dari data CBS
Siapa yang menggunakanSemua pihak (termasuk regulator)Terutama manajemen internal
Pertanyaan yang dijawab"Apa yang terjadi?""Mengapa terjadi? Apa yang akan terjadi? Apa yang harus dilakukan?"
Contoh di bank syariahLaporan keuangan bulanan ke OJKDashboard KPI kepala cabang yang diperbarui setiap hari

A.4 Ekosistem BI: Empat Komponen Utama

Untuk membangun sistem BI yang lengkap, sebuah bank membutuhkan empat komponen:

1. Data Warehouse (Gudang Data) Berbeda dari database operasional CBS yang dirancang untuk transaksi cepat, data warehouse adalah database khusus yang dirancang untuk analisis. Data dari berbagai sumber (CBS, CRM, sistem SDM, data pasar) dikumpulkan dan diorganisasikan di sini.

2. ETL (Extract, Transform, Load) Proses mengambil data dari sumber (Extract), membersihkan dan menyeragamkan formatnya (Transform), lalu memuatnya ke dalam data warehouse (Load). Ini adalah "pipa" yang menghubungkan data operasional dengan sistem analisis.

3. OLAP (Online Analytical Processing) Teknologi yang memungkinkan manajer "mengiris" data dari berbagai dimensi β€” misalnya melihat NPF per cabang, per jenis akad, per periode waktu, dan per segmen nasabah β€” secara cepat dan fleksibel.

4. Dashboard & Visualisasi Antarmuka visual yang menampilkan KPI, grafik, dan ringkasan dalam format yang mudah dipahami oleh manajer non-teknis. Inilah yang akan kita latih hari ini.

Catatan penting untuk mahasiswa: Di lab hari ini, kita tidak akan membangun sistem BI penuh (itu membutuhkan infrastruktur IT yang kompleks). Yang kita lakukan adalah mensimulasikan lapisan terakhir dari BI β€” yaitu dashboard β€” menggunakan Excel. Ini sudah cukup untuk memahami logika dan nilai BI dari perspektif manajerial.


B. Kebutuhan Informasi Berbeda di Setiap Level Manajemen

Salah satu prinsip fundamental SIM yang sudah kita pelajari di Pertemuan 2 dan 7 adalah bahwa tidak semua orang membutuhkan informasi yang sama. Di Pertemuan 7, kita melihat ini dari sudut pandang DSS. Sekarang kita lihat lebih dalam dari sudut pandang BI.

B.1 Tiga Level Manajemen dan Kebutuhan Informasinya

Level 1 β€” Manajemen Operasional (Staf & Supervisor)

Siapa: Teller, customer service, petugas pembiayaan, supervisor lapangan

Kebutuhan informasi:

  • Data transaksi hari ini secara rinci
  • Status pengajuan pembiayaan yang sedang diproses
  • Daftar nasabah yang harus dihubungi hari ini (karena angsuran jatuh tempo)
  • Saldo kas dan posisi likuiditas saat ini

Karakteristik informasi yang dibutuhkan: Rinci, real-time, operasional, terstruktur

Sistem yang menyediakan: Terutama TPS (Transaction Processing System) yang berjalan di CBS


Level 2 β€” Manajemen Taktis (Kepala Cabang / Kepala Divisi)

Siapa: Kepala cabang, manajer pembiayaan, kepala divisi operasional, kepala divisi pemasaran

Kebutuhan informasi:

  • Kinerja cabang minggu ini vs. target (DPK terkumpul, pembiayaan tersalurkan)
  • Tren NPF: apakah naik atau turun dalam 3 bulan terakhir?
  • Produk mana yang paling banyak diminati nasabah bulan ini?
  • Perbandingan kinerja: cabang kita vs. rata-rata regional
  • Komposisi nasabah: berapa persen nasabah baru vs. nasabah lama?

Karakteristik informasi yang dibutuhkan: Ringkas, tren/perbandingan, harian/mingguan, berbasis grafik

Sistem yang menyediakan: MIS (Management Information System) dan awal dari DSS


Level 3 β€” Manajemen Strategis (Direksi & Komisaris)

Siapa: Direktur Utama, Direktur Keuangan, Direktur Bisnis, Dewan Komisaris, DPS (Dewan Pengawas Syariah)

Kebutuhan informasi:

  • Posisi bank secara keseluruhan: CAR, ROA, NPF β€” apakah sehat?
  • Pertumbuhan aset dan DPK: apakah kita tumbuh lebih cepat dari kompetitor?
  • Kontribusi masing-masing segmen bisnis terhadap total laba
  • Proyeksi ke depan: dengan tren ini, di mana posisi bank 6 bulan lagi?
  • Peta risiko strategis: risiko apa yang paling mengancam dalam 1–2 tahun ke depan?

Karakteristik informasi yang dibutuhkan: Agregat, ringkas, proyeksi, multidimensional, jarang rinci

Sistem yang menyediakan: EIS (Executive Information System) β€” wujud tertinggi dari BI

B.2 EIS: Wujud BI di Level Strategis

Executive Information System (EIS) adalah sistem yang dirancang khusus untuk membantu manajemen tingkat atas dalam memantau kondisi bank dan mengidentifikasi isu strategis. Karakteristik EIS:

  • Akses mudah dan cepat β€” dirancang untuk digunakan oleh eksekutif yang tidak memiliki latar belakang teknis; sering berbentuk layar sentuh atau aplikasi tablet
  • Drill-down capability β€” dari angka agregat, eksekutif bisa "menyelam" ke detail jika ada yang mencurigakan (misal: dari "NPF nasional 3,8%", klik untuk melihat "NPF per wilayah", klik lagi untuk "NPF per cabang")
  • Alert otomatis β€” jika KPI melampaui batas threshold (misal: NPF mendekati 5%), sistem mengirim notifikasi otomatis ke direksi
  • Integrasi multi-sumber β€” menggabungkan data internal bank dengan data eksternal (pertumbuhan ekonomi, kebijakan BI, data kompetitor yang tersedia publik)

Di bank-bank besar seperti BSI, sistem EIS ini sudah berbentuk aplikasi khusus di tablet atau laptop direksi yang bisa diakses kapan saja. Di BPRS yang lebih kecil, wujudnya mungkin berupa laporan Excel yang dikirim setiap hari kepada kepala cabang β€” yang intinya tidak berbeda: memberikan gambaran menyeluruh kondisi bank secara cepat.

Itulah yang akan kita simulasikan hari ini β€” membuat versi sederhana dari sistem pelaporan level kepala cabang menggunakan Excel.


C. KPI Utama Perbankan Syariah: Apa yang Harus Diukur?

KPI (Key Performance Indicator) adalah angka-angka kunci yang digunakan manajemen untuk memantau kesehatan dan kinerja bank. Tidak semua angka sama pentingnya β€” itulah mengapa disebut "key" (kunci). Berikut adalah KPI utama yang wajib dipahami oleh calon bankir syariah:

C.1 NPF β€” Non-Performing Financing (Pembiayaan Bermasalah)

Apa itu: Rasio pembiayaan bermasalah (kolektibilitas 3, 4, dan 5) terhadap total pembiayaan yang disalurkan.

Rumus:

NPF = (Pembiayaan Bermasalah / Total Pembiayaan) Γ— 100%

Contoh: Jika total pembiayaan Rp 500 miliar dan pembiayaan bermasalah Rp 21 miliar β†’ NPF = (21/500) Γ— 100% = 4,2%

Threshold regulasi: OJK menetapkan batas maksimal NPF Gross sebesar 5%. Bank dengan NPF > 5% masuk kategori pengawasan intensif.

Interpretasi:

NPFStatusTindakan
< 2%🟒 Sangat SehatPertahankan β€” analisis pembiayaan sudah efektif
2% – 5%🟑 Perlu PerhatianPantau lebih ketat, evaluasi analisis kredit
> 5%πŸ”΄ BerbahayaTindakan segera: restrukturisasi, penghentian pertumbuhan

Mengapa NPF sangat penting bagi bank syariah? Karena dalam akad pembiayaan syariah (murabahah, musyarakah, mudharabah), bank tidak mengambil bunga β€” bank berbagi hasil atau menambahkan margin. Jika nasabah tidak membayar, bank kehilangan modal pokok sekaligus potensi bagi hasil. Risiko ini lebih kompleks dari bank konvensional dan harus dipantau sangat ketat.

C.2 FDR β€” Financing to Deposit Ratio (Rasio Pembiayaan terhadap DPK)

Apa itu: Rasio antara total pembiayaan yang disalurkan dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun. Ini adalah ukuran seberapa aktif bank "memutar" dana yang dipercayakan nasabah.

Rumus:

FDR = (Total Pembiayaan / Total DPK) Γ— 100%

Contoh: Total pembiayaan Rp 800 miliar, total DPK Rp 1 triliun β†’ FDR = 80%

Interpretasi:

FDRArtinyaStatus
< 75%Bank terlalu konservatif β€” banyak dana "menganggur" tidak tersalurkan🟑 Kurang Optimal
75% – 85%Zona ideal β€” likuiditas aman, penyaluran aktif🟒 Sehat
86% – 100%Penyaluran agresif β€” perlu pantau likuiditas lebih ketat🟑 Waspadai
> 100%Dana tersalurkan melebihi DPK β€” risiko likuiditas tinggiπŸ”΄ Bahaya

Catatan khusus bank syariah: Istilah FDR (bukan LDR/Loan to Deposit Ratio yang digunakan bank konvensional) mencerminkan bahwa produk yang disalurkan adalah pembiayaan (financing) berbasis akad syariah, bukan pinjaman berbunga (loan).

C.3 BOPO β€” Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (Efisiensi)

Apa itu: Rasio yang mengukur seberapa efisien bank dalam mengelola biaya operasionalnya. Semakin rendah BOPO, semakin efisien bank tersebut.

Rumus:

BOPO = (Biaya Operasional / Pendapatan Operasional) Γ— 100%

Contoh: Biaya operasional Rp 850 miliar, pendapatan operasional Rp 1 triliun β†’ BOPO = 85%

Interpretasi:

BOPOStatusArtinya
< 70%🟒 Sangat EfisienSetiap Rp 100 pendapatan hanya menghabiskan < Rp 70 untuk biaya
70% – 85%🟑 Cukup EfisienRata-rata industri perbankan syariah Indonesia
> 85%πŸ”΄ Tidak EfisienBiaya operasional terlalu besar β€” perlu restrukturisasi

Makna manajerial: BOPO yang tinggi bisa mengindikasikan: biaya SDM yang terlalu besar, jaringan kantor yang terlalu luas dibanding volume bisnis, atau proses operasional yang belum efisien (masih manual). Transformasi digital sering dikaitkan dengan upaya menurunkan BOPO.

C.4 CAR β€” Capital Adequacy Ratio (Kecukupan Modal)

Apa itu: Rasio kecukupan modal β€” seberapa kuat bantalan modal bank dalam menghadapi risiko kerugian.

Rumus:

CAR = (Modal Bank / ATMR) Γ— 100%

(ATMR = Aktiva Tertimbang Menurut Risiko)

Threshold regulasi: OJK mewajibkan CAR minimal 8% (bank konvensional dan syariah). Bank yang lebih besar dan memiliki profil risiko lebih tinggi diwajibkan memiliki CAR lebih tinggi.

Interpretasi sederhana: Jika CAR = 15%, artinya untuk setiap Rp 100 aset berisiko yang dimiliki bank, bank memiliki modal cadangan Rp 15. Semakin tinggi, semakin kuat bank menghadapi guncangan.

C.5 ROA β€” Return on Assets (Profitabilitas)

Apa itu: Ukuran seberapa efektif bank menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya.

Rumus:

ROA = (Laba Bersih / Total Aset) Γ— 100%

Threshold OJK: ROA > 1,5% dianggap "Sangat Baik" untuk perbankan syariah Indonesia.

C.6 Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga)

Apa itu: Persentase pertumbuhan total dana yang berhasil dihimpun dari nasabah (tabungan, giro, deposito) dibandingkan periode sebelumnya.

Rumus:

Pertumbuhan DPK = ((DPK Bulan Ini - DPK Bulan Lalu) / DPK Bulan Lalu) Γ— 100%

Makna strategis: DPK adalah "bahan bakar" bank syariah. Tanpa pertumbuhan DPK yang cukup, bank tidak bisa menumbuhkan pembiayaan. Pertumbuhan DPK yang konsisten mencerminkan kepercayaan nasabah dan efektivitas strategi pemasaran simpanan.

C.7 Hubungan Antar KPI: Cara Membaca Secara Holistik

KPI tidak boleh dibaca secara terpisah-pisah. Seorang manajer yang baik membacanya sebagai satu ekosistem yang saling terhubung:

  DPK naik? ──────────────────────────────────→ Potensi pembiayaan bisa tumbuh
                                                                β”‚
  FDR tinggi? ────────────────────────────────→ Dana tersalurkan aktif, tapi pantau
                                                        likuiditas
                                                                β”‚
  NPF naik? ──────────────────────────────────→ Kualitas pembiayaan memburuk
                                                        β†’ BOPO ikut naik (biaya
                                                          collection meningkat)
                                                                β”‚
  BOPO tinggi + ROA turun? ───────────────────→ Bank tidak efisien / tidak profitable
                                                                β”‚
  CAR turun? ─────────────────────────────────→ Modal tergerus β†’ bank dalam bahaya

Contoh skenario nyata: Kepala cabang melihat bahwa FDR cabangnya sudah mencapai 92% (tinggi). Apakah ini baik atau buruk? Bergantung: jika NPF masih rendah (< 3%), ini berarti penyaluran agresif dan berkualitas β†’ penjualan sedang bagus. Tapi jika bersamaan dengan itu NPF mulai merangkak dari 2% ke 3,5%, sinyal bahaya mulai muncul β€” penyaluran yang terlalu agresif mungkin mengorbankan kehati-hatian analisis.


D. Dashboard Manajerial: Prinsip Desain yang Benar

D.1 Apa Itu Dashboard dan Mengapa Ia Bukan Sekadar Kumpulan Grafik?

Istilah "dashboard" berasal dari panel instrumen di kendaraan. Sama seperti dashboard mobil yang menampilkan kecepatan, suhu mesin, level bahan bakar, dan indikator lainnya dalam satu pandangan β€” dashboard manajerial menampilkan KPI bank dalam satu halaman yang dapat dipahami dalam hitungan detik.

Namun banyak yang salah kaprah: dashboard yang baik bukan sekadar menumpuk banyak grafik dalam satu halaman. Dashboard yang buruk justru membuat manajer semakin bingung karena terlalu banyak informasi yang tidak terorganisir.

Dashboard yang efektif memiliki satu tujuan utama yang jelas β€” misalnya: "Memberikan kepala cabang gambaran kondisi kinerja cabang dalam 5 menit pertama setiap pagi hari."

D.2 Empat Prinsip Dashboard yang Efektif

Prinsip 1 β€” Relevan: Hanya tampilkan KPI yang benar-benar penting untuk audiens yang dituju. Dashboard kepala cabang berbeda dari dashboard direksi. Jangan tampilkan 20 angka jika 5 sudah cukup untuk membuat keputusan.

Prinsip 2 β€” Ringkas: Seluruh informasi inti harus terlihat dalam satu layar tanpa perlu scroll. Jika perlu scroll, itu bukan dashboard β€” itu laporan.

Prinsip 3 β€” Visual: Gunakan grafik, warna, dan indikator visual untuk mempercepat pemahaman. Manusia memproses visual 60.000 kali lebih cepat dari teks. Angka "NPF = 4,2%" membutuhkan konteks untuk dipahami. Tapi indikator merah-kuning-hijau langsung memberikan sinyal tanpa perlu berpikir panjang.

Prinsip 4 β€” Dapat Ditindaklanjuti (Actionable): Setiap elemen dalam dashboard harus menjawab pertanyaan: "Jika saya melihat angka ini, apa yang harus saya lakukan?" Dashboard yang hanya menampilkan data tanpa koneksi ke tindakan adalah dashboard yang tidak berguna.

D.3 Conditional Formatting sebagai "Lampu Lalu Lintas" Data

Conditional formatting di Excel adalah fitur yang secara otomatis mengubah warna sel berdasarkan nilai angkanya. Ini adalah cara paling sederhana dan efektif untuk membuat dashboard yang "berbicara" kepada manajer:

WarnaMaknaContoh Penggunaan
🟒 HijauKondisi baik / dalam targetNPF < 2%, FDR 75–85%, BOPO < 75%
🟑 KuningPerlu perhatian / mendekati batasNPF 2–4%, FDR > 85%, BOPO 75–85%
πŸ”΄ MerahKondisi berbahaya / melewati batasNPF > 5%, FDR > 100%, BOPO > 90%

Ketika kepala cabang membuka dashboard di pagi hari dan melihat baris NPF berwarna merah, ia langsung tahu β€” tanpa perlu membaca laporan panjang β€” bahwa ada masalah serius yang perlu ditangani hari ini.


E. BI dalam Perspektif Islam

E.1 Syafafiyyah β€” Transparansi Informasi sebagai Hak Manajer

Dalam Islam, transparansi (syafafiyyah) bukan hanya nilai etis yang baik β€” ia adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengelola amanah. Seorang manajer bank syariah adalah wakil dari pemegang saham, dari nasabah penabung, dan dari masyarakat luas yang menaruh kepercayaan pada lembaga tersebut.

Q.S. Al-Baqarah: 282 memerintahkan agar setiap transaksi dicatat dengan benar dan dapat diverifikasi. Ini adalah landasan yang kuat untuk budaya BI yang baik: data harus dicatat dengan akurat, disimpan dengan tertib, dan dilaporkan dengan jujur.

Sistem BI yang baik mendukung syafafiyyah dengan cara:

  • Memastikan tidak ada informasi penting yang "disembunyikan" dari manajemen
  • Membuat kondisi bank terlihat apa adanya β€” bukan sebagaimana yang ingin dilihat
  • Memberikan akses informasi yang tepat kepada orang yang tepat secara tepat waktu

E.2 Mas'uliyyah β€” Pertanggungjawaban sebagai Dasar Pelaporan

Mas'uliyyah (pertanggungjawaban) adalah prinsip bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah ο·Ί bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam konteks BI, prinsip ini bermakna:

  • Kepala cabang bertanggung jawab atas kinerja cabangnya β€” dan BI adalah alat yang memungkinkan ia mempertanggungjawabkan kinerjanya dengan data
  • Dashboard KPI bukan alat kontrol dari atasan semata, melainkan cermin yang membantu manajer memahami kondisinya dan mengambil tindakan yang tepat
  • Ketika NPF merangkak naik, seorang kepala cabang yang mas'uliyyah tidak menunggu direksi bertanya β€” ia proaktif mengambil langkah koreksi

E.3 Shidq β€” Kejujuran dan Bahaya Window Dressing

Shidq (kejujuran/kebenaran) adalah salah satu dari empat sifat wajib Rasulullah ο·Ί dan menjadi fondasi kepercayaan. Dalam konteks BI, ancaman terbesar terhadap shidq adalah manipulasi data β€” atau dalam bahasa keuangan: window dressing.

Window dressing adalah praktik memperindah tampilan laporan keuangan/kinerja sesaat sebelum periode pelaporan, tanpa mencerminkan kondisi sebenarnya. Contoh: menunda pengakuan NPF pada akhir bulan agar rasio tampak lebih baik dari kenyataan, atau memindahkan pembiayaan bermasalah ke rekening "abu-abu" agar tidak terhitung dalam NPF.

Praktik ini adalah bentuk penipuan manajerial yang bertentangan langsung dengan prinsip shidq. Sistem BI yang baik, dengan real-time data dan otomatisasi perhitungan langsung dari CBS, menjadi pengaman terhadap window dressing karena data tidak bisa dimanipulasi secara manual dengan mudah.


πŸ’» KEGIATAN LABORATORIUM

Judul Kegiatan: Membangun Dashboard KPI Cabang Bank Syariah di Excel

Tujuan: Mahasiswa mampu membangun dashboard KPI sederhana untuk kepala cabang bank syariah menggunakan Microsoft Excel β€” mencakup grafik tren, indikator warna (conditional formatting), dan ringkasan narasi manajerial β€” serta menginterpretasikan dashboard tersebut untuk merumuskan rekomendasi tindakan.

Alat yang Dibutuhkan:

  • Komputer lab dengan Microsoft Excel
  • Dataset fiktif kinerja cabang (disediakan dosen β€” lihat lampiran di bawah)
  • Koneksi internet untuk referensi tambahan (opsional)

Alokasi Waktu: 50 menit


Dataset Lab 9 β€” Kinerja Cabang BSN Pekalongan (Semester I 2025)

Salin data berikut ke Sheet "Data_Kinerja" di Excel:

BulanTotal DPK (Rp Miliar)Total Pembiayaan (Rp Miliar)Pembiayaan Bermasalah (Rp Miliar)Biaya Operasional (Rp Miliar)Pendapatan Operasional (Rp Miliar)
Januari2451984,53,24,1
Februari2512045,13,34,2
Maret2602155,83,44,3
April2682226,73,54,2
Mei2742297,13,64,3
Juni2802357,83,74,4

Langkah-Langkah Praktikum

Langkah 1 (5 menit) β€” Setup File

  1. Buka Microsoft Excel β†’ buat file baru
  2. Beri nama file: Dashboard_Lab9_[NIM]_[Nama].xlsx
  3. Buat tiga sheet:
    • Sheet 1: beri nama Data_Kinerja
    • Sheet 2: beri nama Kalkulasi_KPI
    • Sheet 3: beri nama Dashboard
  4. Salin tabel dataset di atas ke Sheet Data_Kinerja

Langkah 2 (10 menit) β€” Kalkulasi KPI di Sheet Kalkulasi_KPI

Di sheet Kalkulasi_KPI, buat tabel baru dengan menghitung tiga KPI utama dari data mentah:

Buat header tabel:

BulanNPF (%)FDR (%)BOPO (%)

Untuk setiap bulan, gunakan formula berikut (referensikan ke Sheet Data_Kinerja):

NPF  = (Pembiayaan Bermasalah / Total Pembiayaan) Γ— 100
FDR  = (Total Pembiayaan / Total DPK) Γ— 100
BOPO = (Biaya Operasional / Pendapatan Operasional) Γ— 100

Contoh formula untuk baris Januari (asumsi data di Sheet Data_Kinerja mulai baris 2):

  • NPF Januari: =Data_Kinerja!D2/Data_Kinerja!C2*100
  • FDR Januari: =Data_Kinerja!C2/Data_Kinerja!B2*100
  • BOPO Januari: =Data_Kinerja!E2/Data_Kinerja!F2*100

Kerjakan untuk semua 6 bulan. Hasil akhir Anda seharusnya:

BulanNPF (%)FDR (%)BOPO (%)
Januari2,2780,8278,05
Februari2,5081,2778,57
Maret2,7082,6979,07
April3,0282,8483,33
Mei3,1083,5883,72
Juni3,3283,9384,09

Jika hasilnya berbeda, periksa kembali referensi sel Anda.


Langkah 3 (10 menit) β€” Conditional Formatting: Lampu Lalu Lintas KPI

Masih di sheet Kalkulasi_KPI, terapkan conditional formatting pada kolom NPF, FDR, dan BOPO:

Untuk kolom NPF:

  1. Pilih semua nilai NPF (B2:B7)
  2. Home β†’ Conditional Formatting β†’ New Rule β†’ "Format cells that contain"
  3. Buat 3 aturan:
    • Nilai < 2 β†’ isi warna Hijau (fill: hijau muda)
    • Nilai antara 2 dan 5 β†’ isi warna Kuning (fill: kuning muda)
    • Nilai > 5 β†’ isi warna Merah (fill: merah muda)

Untuk kolom FDR:

  • 75–85 β†’ Hijau
  • < 75 atau 85–100 β†’ Kuning
  • 100 β†’ Merah

Untuk kolom BOPO:

  • < 75 β†’ Hijau
  • 75–85 β†’ Kuning
  • 85 β†’ Merah

Setelah selesai, kolom KPI Anda akan berubah warna secara otomatis. Amati: apa yang "dikatakan" warna-warna tersebut tentang kondisi cabang selama 6 bulan?


Langkah 4 (15 menit) β€” Membuat Tiga Grafik Tren

Di sheet Kalkulasi_KPI, buat tiga grafik garis (line chart) untuk memvisualisasikan tren ketiga KPI:

Grafik 1 β€” Tren NPF:

  1. Pilih kolom Bulan dan NPF (A1:B7)
  2. Insert β†’ Charts β†’ Line β†’ Line with Markers
  3. Beri judul: "Tren NPF Cabang BSN Pekalongan β€” Semester I 2025"
  4. Tambahkan garis referensi horisontal di angka 5% (batas regulasi OJK):
    • Di data, tambahkan kolom baru "Batas OJK" dengan nilai 5 di setiap baris
    • Tambahkan sebagai seri kedua di grafik β†’ format garis menjadi merah putus-putus
  5. Format: warna garis NPF biru, tambahkan data label, aktifkan gridlines

Grafik 2 β€” Tren FDR:

  • Prosedur serupa dengan Grafik 1
  • Tambahkan dua garis referensi: 75% (batas bawah) dan 85% (batas atas)
  • Judul: "Tren FDR Cabang BSN Pekalongan β€” Semester I 2025"

Grafik 3 β€” Tren BOPO:

  • Prosedur serupa
  • Tambahkan garis referensi di 85% (batas efisiensi)
  • Judul: "Tren BOPO Cabang BSN Pekalongan β€” Semester I 2025"

Langkah 5 (10 menit) β€” Merakit Dashboard di Sheet Dashboard

Di sheet Dashboard, susun tampilan final yang akan dilihat oleh kepala cabang:

Area 1 β€” Header Dashboard (baris 1–3)

╔══════════════════════════════════════════════════════════════════╗
β•‘         DASHBOARD KINERJA β€” CABANG BSN PEKALONGAN               β•‘
β•‘                 Semester I 2025 (Jan – Jun)                     β•‘
β•‘          Diperbarui: [tanggal hari ini] | Sumber: Data CBS      β•‘
β•šβ•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•β•

Area 2 β€” Kartu KPI Terkini (Juni 2025) (baris 4–8)

Buat tiga kotak ringkasan bersebelahan menggunakan sel yang digabung (merge cells):

β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”  β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”  β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”
β”‚     NPF         β”‚  β”‚     FDR         β”‚  β”‚     BOPO        β”‚
β”‚    3,32%        β”‚  β”‚    83,93%       β”‚  β”‚    84,09%       β”‚
β”‚  🟑 WASPADA     β”‚  β”‚  🟑 WASPADA     β”‚  β”‚  🟑 WASPADA     β”‚
β”‚  Tren: ↑Naik   β”‚  β”‚  Tren: ↑Naik   β”‚  β”‚  Tren: ↑Naik   β”‚
β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜  β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜  β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜

Isi nilai dari formula yang mereferensikan sheet Kalkulasi_KPI. Status (warna) gunakan conditional formatting yang sama.

Area 3 β€” Grafik Tren (baris 10–30)

Salin (paste as picture) ketiga grafik dari sheet Kalkulasi_KPI ke dalam sheet Dashboard, susun berdampingan atau bertumpuk.

Area 4 β€” Narasi Ringkasan (baris 32–40)

Tambahkan teks ringkasan dalam kotak teks:

πŸ“Œ RINGKASAN KONDISI CABANG β€” JUNI 2025

Situasi: [isi dengan analisis Anda]
Perhatian utama: [KPI mana yang paling mengkhawatirkan dan mengapa]
Rekomendasi: [apa yang seharusnya dilakukan kepala cabang minggu depan]

Isi bagian ini berdasarkan interpretasi Anda terhadap data β€” bukan hanya menyalin angka.


Langkah 6 (Sisa waktu) β€” Interpretasi dan Diskusi

Setelah dashboard selesai, jawab pertanyaan berikut di sebuah teks box atau di sheet terpisah:

  1. KPI mana yang paling mengkhawatirkan dari data 6 bulan ini? Jelaskan alasannya.
  2. Apakah ada hubungan antara tren NPF yang naik dengan tren BOPO yang naik? Logika apa yang menghubungkan keduanya?
  3. Jika Anda adalah kepala cabang BSN Pekalongan, satu tindakan konkret apa yang paling mendesak Anda lakukan berdasarkan dashboard ini?
  4. Mengapa menurut Anda seorang kepala cabang yang melihat kondisi seperti ini justru wajib melaporkan kondisi yang sesungguhnya kepada direksi β€” bukan menyembunyikan atau memperindahnya?

Simpan file dan share link / upload ke Ngaji UIN Gusdur sesuai instruksi dosen.


πŸ“‹ PENUGASAN

TUGAS 9 β€” Laporan Analisis Dashboard + Pengayaan KPI Deadline: Dikumpulkan sebelum Pertemuan ke-10 Format: Laporan dikumpulkan dalam format PDF (3–4 halaman A4, spasi 1,5) + file Excel dashboard Pengumpulan: Via Ngaji UIN Gusdur (opens in a new tab)


LEMBAR TUGAS 9

Nama: ________________________ | NIM: ________________________ | Tanggal: ________________________


Bagian A β€” Analisis Dashboard Mendalam (40 poin)

Berdasarkan dashboard yang Anda buat di lab, tulis analisis naratif yang menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut secara terintegrasi (bukan poin per poin terpisah):

  1. Gambarkan kondisi kinerja cabang BSN Pekalongan selama Semester I 2025 secara menyeluruh. Apakah bank dalam kondisi sehat, sedang memburuk, atau sedang dalam krisis? Dukung argumen Anda dengan angka konkret dari data.

  2. Dari ketiga KPI (NPF, FDR, BOPO), mana yang menurut Anda paling kritis untuk ditangani terlebih dahulu? Mengapa? Kaitkan jawaban Anda dengan konsep hubungan antar-KPI yang sudah dibahas di kelas.

  3. Formulasikan 3 rekomendasi konkret untuk kepala cabang BSN Pekalongan berdasarkan temuan dashboard Anda. Setiap rekomendasi harus: (a) spesifik, (b) menjelaskan mengapa rekomendasi itu relevan dengan data yang ada, dan (c) mempertimbangkan prinsip syariah yang relevan.


Bagian B β€” Riset KPI Perbankan Syariah dari Sumber Resmi (35 poin)

  1. Akses portal OJK di https://www.ojk.go.id (opens in a new tab) β†’ Data dan Statistik β†’ Perbankan Syariah β†’ unduh Statistik Perbankan Syariah terbaru yang tersedia.

  2. Dari laporan tersebut, cari data NPF, FDR, dan BOPO industri perbankan syariah nasional pada periode terbaru yang tersedia.

  3. Bandingkan data KPI cabang fiktif BSN Pekalongan (dari lab) dengan rata-rata industri nasional:

KPIBSN Pekalongan (Juni 2025)Rata-rata Industri NasionalInterpretasi
NPF3,32%[isi dari OJK][lebih baik/lebih buruk/sama?]
FDR83,93%[isi dari OJK]
BOPO84,09%[isi dari OJK]
  1. Berdasarkan perbandingan ini, apakah cabang BSN Pekalongan relatif lebih baik atau lebih buruk dari rata-rata industri? Apakah interpretasi Anda di Bagian A berubah setelah mengetahui konteks industri?

Cantumkan: sumber data OJK yang Anda gunakan (nama laporan, edisi, halaman/tabel).


Bagian C β€” Refleksi: BI, Amanah, dan Kepemimpinan (25 poin)

Tulis esai refleksi singkat (250–350 kata) yang menjawab pertanyaan berikut:

"Bayangkan Anda adalah kepala cabang bank syariah. Dashboard Anda menunjukkan bahwa NPF mulai naik signifikan β€” sudah di 4,8%, hampir menyentuh batas OJK 5%. Laporan ke kantor pusat akan dilakukan minggu depan.

Sebagian orang mungkin tergoda untuk 'menunda' pengakuan beberapa pembiayaan bermasalah agar NPF terlihat 3,5% dalam laporan β€” dan mengurusnya setelah laporan selesai. Tidak ada yang tahu.

Dari perspektif nilai Islam (shidq, amanah, mas'uliyyah) dan dari perspektif profesional sebagai manajer yang baik, apa yang seharusnya Anda lakukan? Apa risiko jangka pendek dan jangka panjang dari setiap pilihan?"


πŸ’¬ BAHAN DISKUSI KELAS

Diskusi 1:

"Sebuah BPRS kecil di daerah mungkin tidak memiliki sistem BI yang canggih. Mereka hanya punya laporan Excel yang dibuat staf keuangan setiap awal bulan. Apakah itu sudah cukup? Apa yang menjadi perbedaan mendasar antara 'laporan Excel biasa' dan 'laporan Excel yang mengandung elemen BI'? Bagaimana cara membuat laporan Excel sederhana menjadi lebih 'intelligent'?"

Diskusi 2:

"Dari data kinerja Cabang BSN Pekalongan yang kita lihat tadi, NPF naik setiap bulan selama 6 bulan berturut-turut β€” dari 2,27% di Januari menjadi 3,32% di Juni. Sebelum menentukan solusi, pertanyaan pertama yang harus dijawab seorang manajer adalah: 'Mengapa ini terjadi?' Apa saja kemungkinan penyebab kenaikan NPF yang konsisten selama 6 bulan? Informasi tambahan apa yang perlu dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan 'mengapa' ini?"

Diskusi 3:

"Seorang direksi bank syariah menginginkan dashboard yang menampilkan 25 KPI sekaligus dalam satu halaman. Kepala TI-nya setuju dan membuatnya. Namun dalam rapat, ternyata direksi jarang menggunakan dashboard tersebut β€” lebih sering meminta laporan narasi panjang dari staf. Menurut Anda, apa yang salah? Bagaimana seharusnya dashboard yang benar-benar dipakai oleh direksi dirancang?"


πŸ“– REFERENSI PERTEMUAN 9

Referensi Utama

NoSumber
1Laudon, K.C., & Laudon, J.P. (2022). Management Information Systems: Managing the Digital Firm (17th Ed., Chapter 12: "Enhancing Decision Making"). New Jersey: Pearson.
2Turban, E., Sharda, R., Delen, D., & King, D. (2011). Business Intelligence: A Managerial Approach (2nd Ed., Chapter 1–3). Upper Saddle River: Pearson.
3McLeod, R., & Schell, G.P. (2008). Sistem Informasi Manajemen (Edisi 10, Bab 9: Sistem Informasi Eksekutif). Jakarta: Salemba Empat.
4O'Brien, J.A., & Marakas, G.M. (2010). Management Information Systems (10th Ed., Chapter 10: "Decision Support Systems"). New York: McGraw-Hill.

Referensi Perbankan Syariah

NoSumber
5Antonio, M.S. (2001). Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Bab Manajemen Perbankan Syariah). Jakarta: Gema Insani Press.
6Karim, A.A. (2014). Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Edisi 5, Bab Manajemen Risiko dan Kinerja). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
7OJK. (2023). Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia 2023–2027. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.

Referensi Regulasi

NoSumber
8SEOJK No. 10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
9POJK No. 4/POJK.03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.
10OJK. Statistik Perbankan Syariah (edisi terbaru). Diakses dari: https://www.ojk.go.id/id/data-dan-statistik (opens in a new tab)

Referensi Nilai Islam

NoSumber
11Q.S. Al-Baqarah: 282 β€” Tentang kewajiban pencatatan yang benar dan dapat diverifikasi dalam setiap transaksi
12HR. Bukhari & Muslim β€” "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" β€” landasan prinsip mas'uliyyah
13Qardawi, Y. (2010). Norma dan Etika Ekonomi Islam (Bab Akuntabilitas dan Transparansi). Jakarta: Gema Insani Press.

πŸ—’οΈ KOLOM REFLEKSI & CATATAN DOSEN

β”Œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”
β”‚               CATATAN PELAKSANAAN PERTEMUAN 9                        β”‚
β”œβ”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€
β”‚ Tanggal pelaksanaan        : ________________________________________ β”‚
β”‚ Jumlah mahasiswa hadir     : ________________________________________ β”‚
β”‚                                                                      β”‚
β”‚ PROGRESS LAB:                                                        β”‚
β”‚ % mahasiswa selesai Langkah 1–2 (kalkulasi KPI): ____________%       β”‚
β”‚ % mahasiswa selesai Langkah 3 (conditional formatting): ______%      β”‚
β”‚ % mahasiswa selesai Langkah 4 (tiga grafik): __________________%     β”‚
β”‚ % mahasiswa selesai Langkah 5 (dashboard utuh): _____________%       β”‚
β”‚                                                                      β”‚
β”‚ PEMAHAMAN KONSEP:                                                    β”‚
β”‚ Konsep yang paling sulit dipahami mahasiswa:                         β”‚
β”‚   ___________________________________________________________________|
β”‚ Pertanyaan atau insight menarik dari diskusi kelas:                  β”‚
β”‚   ___________________________________________________________________|
β”‚                                                                      β”‚
β”‚ KONEKSI DENGAN MATERI SEBELUMNYA:                                    β”‚
β”‚ Apakah mahasiswa berhasil menghubungkan skill grafik P6 dengan       β”‚
β”‚ konteks manajerial BI di P9?  Ya / Tidak / Sebagian                  β”‚
β”‚                                                                      β”‚
β”‚ KENDALA TEKNIS LAB:                                                  β”‚
β”‚   ___________________________________________________________________|
β”‚ Poin yang perlu penekanan ulang di Pertemuan 10:                     β”‚
β”‚   ___________________________________________________________________|
β”‚ Catatan lain               : ________________________________________ β”‚
β””β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”€β”˜

Refleksi Mahasiswa (10 Menit Terakhir)

Luangkan 10 menit terakhir untuk menjawab tiga pertanyaan berikut di buku catatan Anda (tidak dikumpulkan):

  1. Audit diri: Dari enam KPI yang dibahas hari ini (NPF, FDR, BOPO, CAR, ROA, pertumbuhan DPK) β€” mana yang paling Anda pahami dan mana yang masih paling kabur? Apa yang akan Anda lakukan untuk memperdalam pemahaman tentang KPI yang masih kabur tersebut sebelum UAS?

  2. Sebagai calon manajer bank syariah: Jika suatu hari Anda menjadi kepala cabang dan menerima dashboard yang menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan tepat sebelum kunjungan inspeksi dari OJK β€” dengan tekanan dari atasan untuk "menampilkan yang terbaik" β€” apa yang akan Anda lakukan? Dari mana Anda akan menemukan keberanian untuk bersikap jujur?

  3. Refleksi mendalam: Hari ini kita belajar bahwa dashboard yang baik harus "actionable" β€” harus mendorong tindakan. Tapi fakta di lapangan banyak bank yang memiliki dashboard KPI lengkap namun tetap tidak bertindak ketika ada sinyal bahaya, sampai akhirnya terlambat. Menurut Anda, faktor apa yang membuat seseorang bertindak berdasarkan data yang dilihatnya β€” dan apa yang membuatnya tidak bertindak meskipun datanya jelas? Bagaimana nilai Islam dapat menjawab pertanyaan ini?


πŸ”— KONEKSI KE PERTEMUAN BERIKUTNYA

Pertemuan 10 akan membahas:

  • Manajemen Data Nasabah & CRM (Customer Relationship Management) Syariah β€” bagaimana bank syariah mengelola data nasabahnya sebagai aset strategis
  • Segmentasi nasabah berbasis data: tidak semua nasabah sama, dan sistem informasi membantu manajer "mengenal" nasabahnya lebih baik
  • Etika pengelolaan data nasabah: dari perspektif UU PDP dan prinsip amanah dalam Islam
  • Lab: Menggunakan keterampilan Excel (COUNTIF, SUMIF, Pivot Table) yang sudah dikuasai sejak Pertemuan 4–5 untuk melakukan segmentasi nyata terhadap dataset nasabah fiktif

Persiapan untuk Pertemuan 10:

  • Kumpulkan Tugas 9 sebelum pertemuan dimulai
  • Pastikan Anda masih bisa menggunakan COUNTIF, SUMIF, dan filter data di Excel β€” karena akan langsung dipakai di lab
  • Pertanyaan untuk direnungkan: "Jika dashboard KPI di P9 adalah 'pandangan dari atas' tentang kinerja bank secara keseluruhan, maka data nasabah di P10 adalah 'pandangan dari dalam' tentang siapa sebenarnya nasabah kita. Keduanya sama-sama penting β€” mengapa?"

Modul ini disusun berdasarkan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen v2.0 (Revisi Maret 2026), Program Studi Perbankan Syariah, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023.


Β© FEBI UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan β€” Program Studi Perbankan Syariah